A. Sejarah dan Pengertian Telematika
Di
dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Telematika. Kata telematika berasal dari
istilah dalam bahasa Perancis Telematique yang merujuk pada bertemunya sistem
jaringan komunikasi dengan teknologi informasi. Istilah telematika merujuk pada
hakekat cyberspace sebagai suatu sistem elektronik yang lahir dari perkembangan
dan konvergensi telekomunikasi, media dan informatika. Istilah Teknologi Informasi itu
sendiri merujuk pada perkembangan teknologi perangkat-perangkat pengolah
informasi. Para praktisi menyatakan bahwa Telematics adalah singkatan dari
Telecommunication and Informatics sebagai wujud dari perpaduan konsep Computing
and Communication. Istilah Telematics juga dikenal sebagai {the new hybrid
technology} yang lahir karena perkembangan teknologi digital. Perkembangan ini
memicu perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika menjadi semakin
terpadu atau populer dengan istilah konvergensi. Semula media masih belum
menjadi bagian integral dari isu konvergensi teknologi informasi dan komunikasi
pada saat itu. Belakangan baru disadari bahwa
penggunaan sistem komputer dan sistem komunikasi ternyata juga menghadirkan
Media Komunikasi baru. Lebih jauh lagi istilah Telematika kemudian merujuk pada
perkembangan konvergensi antara teknologi telekomunikasi, media dan informatika
yang semula masing-masing berkembang secara terpisah. Konvergensi telematika
kemudian dipahami sebagai sistem elektronik berbasiskan teknologi digital atau
{the Net}. Dalam perkembangannya istilah Media dalam telematika berkembang
menjadi wacana multimedia. Hal ini sedikit membingungkan masyarakat, karena
istilah Multimedia semula hanya merujuk pada kemampuan sistem komputer untuk
mengolah informasi dalam berbagai medium adalah suatu ambiguitas jika istilah
telematika dipahami sebagai akronim Telekomunikasi, Multimedia dan Informatika.
Secara garis besar istilah Teknologi Informasi (TI), telematika, multimedia,
maupun Information and Communication Technologies (ICT) mungkin tidak jauh
berbeda maknanya, namun sebagai definisi sangat tergantung kepada lingkup dan
sudut pandang pengkajiannya.
Istilah
telematika pertama kali digunakan pada tahun 1978 oleh Simon Nora dan Alain
Minc dalam bukunya L'informatisation de la Societe. Istilah telematika yang
berasal dari kata dalam bahasa Perancis telematique merupakan gabungan dua
kata: telekomunikasi dan informatika. Telekomunikasi sendiri mempunyai pengertian sebagai teknik
pengiriman pesan, dari suatu tempat ke tempat lain, dan biasanya berlangsung
secara dua arah. ' Telekomunikasi ' mencakup semua bentuk komunikasi jarak
jauh, termasuk radio, telegraf/ telex, televisi, telepon, fax, dan komunikasi
data melalui jaringan komputer. Sedangkan pengertian Informatika
(Inggris: Informatics) mencakup struktur, sifat, dan interaksi dari beberapa
sistem yang dipakai untuk mengumpulkan data, memproses dan menyimpan hasil
pemrosesan data, serta menampilkannya dalam bentuk informasi. Jadi, pengertian Telematika sendiri lebih
mengacu kepada industri yang berhubungan dengan penggunakan komputer dalam
sistem telekomunikasi. Yang
termasuk dalam telematika ini adalah layanan dial up ke Internet maupun semua
jenis jaringan yang didasarkan pada sistem telekomunikasi untuk mengirimkan
data. Internet sendiri merupakan salah satu contoh telematika. Istilah telematika ini sering
dipakai untuk beberapa macam bidang, sebagai contoh adalah: Integrasi antara sistem
telekomunikasi dan informatika yang dikenal sebagai Teknologi Komunikasi dan
Informatika atau ICT (Information and Communications Technology). Secara lebih spesifik, ICT merupakan
ilmu yang berkaitan dengan pengiriman, penerimaan dan penyimpanan informasi
dengan menggunakan peralatan telekomunikasi.
Secara
umum, istilah telematika dipakai juga untuk teknologi Sistem
Navigasi/Penempatan Global atau GPS (Global Positioning System) sebagai bagian
integral dari komputer dan teknologi komunikasi berpindah (mobile communication
technology).
Secara lebih spesifik, istilah telematika dipakai untuk bidang kendaraan dan lalulintas (road vehicles dan vehicle telematics). Frame dalam dunia teknologi informasi mempunyai beberapa pengertian sesuai dengan masing-masing kapasitas pemakaiannya. Adapun pengertian tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
Secara lebih spesifik, istilah telematika dipakai untuk bidang kendaraan dan lalulintas (road vehicles dan vehicle telematics). Frame dalam dunia teknologi informasi mempunyai beberapa pengertian sesuai dengan masing-masing kapasitas pemakaiannya. Adapun pengertian tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
a. Grafis Publikasi
Yang dimaksudkan frame pada bidang
grafis publikasi ini adalah sebuah kotak area untuk menyisipkan gambar dan teks. Hal ini
dimaksudkan untuk memudahkan peletakkan obyek pada bagian-bagian tertentu.
b. Website
Pada situs web, frame dapat
diartikan sebagai bagian halaman yang tidak akan berubah isinya, sementara
setiap pengunjung mengakses isi content dari halaman tersebut akan berubah.
Untuk lebih jelasnya, sebuah halaman web akan dibagi menjadi beberapa bagian,
yaitu bagian pokok dan bagian isi/content. Bagian pokok halaman web yang
nantinya tidak akan ikut berubah setiap kali pengunjung mengakses itulah yang
dimaksudkan dengan frame. Frame digunakan untuk memudahkan peletakkan
isi/content dalam sebuah situs web.
c. Video/Animasi
Pada dunia film atau animasi, frame
menjadi suatu bagian dasar dari rangkaian suatu film atau pun animasi. Frame
juga biasa digunakan sebagai satuan dalam penghitungan di dunia film atau animasi.
Misalnya jika pada animasi penghitungan dilakukan dengan satuan frame/second
atau frame/detik (banyaknya frame per detik).
Satu-satunya alat atau fasilitas yang dipergunakan untuk mengeksplorasi berbagai data, informasi, dan pengetahuan yang ada di Internet adalah mesin pencari atau yang biasa kita sebut search engine. Search engine adalah sebuah program yang dapat diakses melalui Internet yang fungsinya adalah membantu pengguna komputer mencari berbagai hal yang ingin diketahuinya.
Satu-satunya alat atau fasilitas yang dipergunakan untuk mengeksplorasi berbagai data, informasi, dan pengetahuan yang ada di Internet adalah mesin pencari atau yang biasa kita sebut search engine. Search engine adalah sebuah program yang dapat diakses melalui Internet yang fungsinya adalah membantu pengguna komputer mencari berbagai hal yang ingin diketahuinya.
Di
Internet, terdapat ratusan (bahkan ribuan) search engine yang dapat diakses
secara cuma-cuma. Karena fungsinya mirip pintu gerbang bagi para pengguna
sebelum memasuki situs atau website tertentu, banyak orang yang menyebut search
engine sebagai portal (bandingkan dengan fungsi portal sesungguhnya yang kerap
kita temui di pintu masuk ke sebuah kompleks perumahan). Dari begitu banyak
search engine yang ada, yang paling populer diantaranya adalah Google, Yahoo,
dan Altavista. Penulis menganjurkan agar para pemula mempergunakan Google untuk
latihan melakukan teknik searching di Internet. Ketiga mesin pencari ini dapat
diakses melalui alamat www.google.com, www.yahoo.com, dan www.altavista.com
dengan aplikasi browsing seperti Internet Explorer atau Netscape. Walaupun memiliki fungsi yang kurang
lebih sama, setiap search engine memiliki karakteristik berbeda. Hal-hal yang
membedakan satu search engine dengan search engine lainnya diantaranya adalah
kecepatan pencarian, ketepatan informasi, kuantitas situs yang dicari, teknik
pencarian, format hasil pencarian, dan lain sebagainya. Untuk memudahkan
pembelajaran dan alasan praktis, maka kita memilih Google sebagai contoh. Akan
tetapi, di beberapa kasus kita juga akan mempergunakan mesin pencari lain,
terutama saat membahas fasilitas-fasilitas pencarian yang tidak tersedia di
Google.
Teknik Penyaringan Informasi
Karena
begitu banyaknya informasi yang tersedia di Internet, maka kerap terjadi
fenomena yang sering disebut information overloaded (banjir informasi yang tak
terkendali). Tengoklah misalnya seseorang yang ingin mencari informasi dengan
kata kunci school atau sekolah. Ia akan kebingungan karena pencariannya akan
menghasilkan ratusan ribu bahkan jutaan situs yang berkaitan dengan kata
tersebut. Karena itu, harus ada teknik-teknis khusus yang harus dikuasai agar
seorang pengguna internet dapat memperoleh informasi yang benar-benar relevan
dengan kebutuhannya. Ada dua teknik dasar yang bisa kita pergunakan saat
melakukan searching, yaitu :
1. Menggunakan Simbol Matematika.
2. Menggunakan Simbol Boolean.
1. Filterisasi dengan Simbol Matematika
Simbol pertama yang sangat berguna
untuk pencarian dengan search engine adalah tanda plus (+). Seorang netter
dapat menggunakan tanda plus jika ingin mencari dokumen yang memuat lebih dari
satu kata kunci. Contohnya, jika seorang pengajar atau peserta didik ingin
mengetahui informasi mengenai populasi guru di propinsi Lampung, maka yang
bersangkutan dapat mencarinya dengan menggunakan kata kunci:
+Populasi+Guru+Lampung
Saat menerima masukkan dengan format
semacam itu, mesin pencari akan mencari berbagai dokumen maupun artikel yang
memuat kata populasi, guru, dan Lampung di seluruh jaringan internet. Jika
terdapat sebuah dokumen yang hanya mengandung salah satu atau salah dua dari
ketiga kata tersebut, maka dokumen itu tidak akan ditampilkan. Contoh lain yang
menarik adalah seorang seniman yang ingin mencari informasi terkait dengan
kejadiankejadian kesenian di Jakarta pada tahun 1970. Dengan
memanfaatkan tanda “+” tersebut, ia dapat memasukkan searching key dengan format seperti berikut:
memanfaatkan tanda “+” tersebut, ia dapat memasukkan searching key dengan format seperti berikut:
+jakarta+kesenian+program+1970
Cara ini tentu saja jauh lebih
efektif ketimbang hanya menggunakan searching Lampung, Jakarta, kesenian atau
populasi saja, yang hasilnya akan berupa jutaan link ke situs yang mengandung
kata-kata tersebut. Simbol “+” ini dapat dipergunakan sebanyak-banyaknya,
karena prinsip yang kerap dipergunakan dalam searching di Internet adalah bahwa
semakin spesifik yang dicari (semakin banyak menggunakan tanda “+”) berarti
semakin baik pula suatu pencarian. Dengan searching key yang semakin spesifik,
hasil yang ditampilkan search engine akan lebih terfokus.
2. Filterisasi dengan Simbol Boolean
Simbol-simbol boolean banyak
dipergunakan oleh mereka yang memiliki latar belakang ilmu komputer atau yang
terbiasa mengakses sistem basis data (database) konvensional. Secara garis
besar, beberapa simbol boolean yang penting, yang oleh beberapa kalangan
dinilai sudah terlalu kuno dan ketinggalan jaman, sebenarnya sudah terwakili
dengan simbol-simbol matematika seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Kelebihan dari simbol boolean adalah simbol ini dapat merepresentasikan jenis
pencarian yang tergolong kompleks karena memiliki simbol-simbol tambahan.
Berikut adalah beberapa simbol penting yang kerap dipergunakan oleh para netter
untuk membantu proses pencarian. Simbol pertama adalah kata OR (mengandung
pengertian “atau” dalam bahasa Indonesia). Simbol ini bekerja dengan cara yang
sama dengan karakter spasi pada simbol matematika. Jika seseorang melakukan
pencarian dengan searching key kepulauan OR nusantara maka search engine akan
mencari seluruh dokumen yang mengandung kata kepulauan, atau nusantara, atau
yang mengandung kedua kata tersebut. Di dalam satu event pencarian, kata OR
dapat dipergunakan beberapa kali, misalnya:
“raja OR presiden OR pemimpin OR
dinasti“
yang akan menampilkan daftar dokumen
yang memiliki satu atau lebih kata raja, presiden, pemimpin, atau dinasti
(termasuk kombinasi antara 2-4 kata-kata tersebut). Simbol berikutnya yang
memiliki fungsi kurang lebih sama dengan tanda plus pada simbol matematika
adalah AND, yang dapat diterjemahkan sebagai kata “dan” dalam bahasa Indonesia.
Contoh penggunaan simbol ini adalah sebagai berikut:
“ ilmu AND pengetahuan AND alam “
Search engine yang menerima masukan
seperti itu akan mencari seluruh dokumen di internet yang memuat tiga buah
kata, yaitu ilmu, pengetahuan, dan alam di dalamnya. Jika di dalam model simbol
matematika terdapat tanda minus (untuk merepresentasikan kecuali), maka dalam
model simbol boolean terdapat kata NOT untuk merepresentasikan hal yang serupa.
Sebuah perintah dalam metode simbol boolean yang tidak diketemukan padanannya
dalam simbol matematika adalah NEAR. Fungsi perintah ini cukup unik. Untuk
mendapatkan gambaran mengenai fungsi simbol ini, perhatikan contoh berikut :
“ sekolah NEAR Yogyakarta “
“ sekolah NEAR Yogyakarta “
Perintah
di atas akan menginstruksikan search engine untuk mencari dokumen yang
mengandung kata sekolah dan yogyakarta, dimana jarak (jumlah kata di antara
kedua kata tersebut) berdekatan. Dengan kata lain, search engine akan mencari
dokumen yang memuat kalimat seperti sebuah sekolah di Yogyakarta berhasil
mendapatkan dana bantuan dari PBB atau seorang siswa di Yogyakarta ditemukan
sedang adu balap ” atau “ sekolah menengah kejuruan di Yogyakarta karena jarak
kata sekolah dan Yogyakarta pada kalimat-kalimat tersebut relatif berdekatan.
Kriteria berdekatan untuk masing-masing search engine biasanya berbeda.
B. Perkembangan Telematika
Di zamam pra-sejarah, manusia mengkomunikasikan pikiran,
pengetahuan, dan gagasannya ke lingkungan sosialnya secara verbal. Dan dalam
beberapa kasus, dengan menggunakan simbol-simbol material berupa ukiran pada
batu, dinding gua, dan lain sebagainya. Komunikasi tertulis yang mula-mula
dikembangkan memungkinkan informasi untuk disimpan dan dibaca oleh orang-orang
lain di waktu-waktu kemudian. Penyimpanan dan pengalihan informasi melalui
teknologi umumnya berlangsung secara lamban, mahal, dan membutuhkan banyak
tenaga.
Dengan ditemukannya teknologi cetak ( printing
technology ), informasi dapat dialihkan ke lebih banyak orang, di wilayah yang
lebih luas, dan dengan biaya yang lebih murah. Di peralihan millennium sekarang
ini, perkembangan media elektronik, mencakup radio, televise, dan telepon,
telah memungkinkan penurunan waktu pengalihan informasi secara dramatik.
Jarak geografis kini tidak lagi menjadi
penghalang dalam proses komunikasi dan pertukaran informasi. Biaya penyimpanan
dan pengantaran informasi secara elektronik kini telah semakin banyak
ditentukan oleh kebijakan public, ketimbang oleh faktor-faktor teknikal semata.
Misalnya, harga pusa telepon lebih terkait dengan kebijakan regulasi public
dari pada harga actual yang dibutuhkannya.
Komputer-komputer digital dan media penyimpanan
informasi berskala besar dan missal telah memungkinkan terwujudnya basis data
dengan kemampuan untuk memproses dan memanipulasi informasi. Tidak dengan
informasi tertulis, data yang tersimpan secara elektronik ini ‘ tak tampak ‘
bagi mata biasa, kecuali bagi perangkat keras dan lunak untuk melakukan
decoding ( seperti komputer dengan kartu baca magnetic ).
Teknologi pemrosesan data secara elektronik ini
bersama dengan teknologi komputer digital telah menghasilkan sebuah aliansi
sinergis baru yang dikenal luas sebagai teknologi informasi, atau Teknologi
Telematika. Ruang , waktu, dan biaya secara berangsur-angsur direduksi melalui
aplikasi-aplikasi tekonologi komputer, penyimpanan missal, dan transmisi
elektronikal dan optial.
Pengontrolan informasi dalam rangka teknologi
seperti ini menjadi lebih terdistribusi ketimbang sebelumnya. Dan
peranan-peranan pemerintah, agen-agen komersial, pengusaha-pengusaha swasta
menjadi lebih sulit untuk dimengerti.
Dalam latar belakang sosial demikianlah
telekomunikasi dan informasi, mulai dari radio, telegrap, dan telepon,
televise, satelit telekomunikasi, hingga ke internet dan perangkat multimedia
tampil dan berkembang di Indonesia. Perkembangan telematika penulis bagi
menjadi 2 masa yaitu masa sebelum atau pra satelit dan masa satelit.
- Masa Pra-Satelit
1. Radio dan Telepon
Di periode pra satelit (sebelum
tahun 1976), perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia masih terbatas pada
bidang telepon dan radio. Radio Republik Indonesia (RRI) lahir dengan di dorong
oleh kebutuhan yang mendesak akan adanya alat perjuangan di masa revolusi
kemerdekaan tahun 1945, dengan menggunakan perangkat keras seadanya. Dalam
situasi demikian ini para pendiri RRI melangsungkan pertemuan pada tanggal 11
September 1945 untuk merumuskan jati diri keberadaan RRI sebagai sarana
komunikasi antara pemerintah dengan rakyat, dan antara rakyat dengan rakyat.
Sedangkan telepon pada masa itu
tidak terlalu penting sehingga anggaran pemerintah untuk membangun
telekomunikasipun masih kecil jumlahnya. Saat itu, telepon dikelola oleh PTT
(Perusahaan Telepon dan Telegrap) saja. Sampai pergantian rezim dari Orla ke
Orba di tahun 1965, RRI merupakan operator tunggal siaran radio di Indonesia.
Setelah itu bermunculan radio – radio siaran swasta. Lima tahun kemudian muncul
PP NO. 55 tahun 1970 yang mengatur tentang radio siaran non pemerintah.
Periode awal tahun 1960-an
merupakan masa suram bagi pertelekomunikasian Indonesia, para ahli teknologi
masih menggeluti teknologi sederhana dan “kuno”. Misalnya saja, PTT masih
menggunakan sentral-sentral telepon yang manual, teknik radio High Frequency
ataupun saluran kawat terbuka (Open Were Lines). Pada masa itu, banyak negara
pemberi dana untuk Indonesia – termasuk pendana untuk pengembangan
telekomunikasi, menghentikan bantuannya. Hal itu karena semakin memburuknya
situasi dan kondisi ekonomi dan politi di Indonesia.
Tercatat bahwa pada masa
1960-1967, hanya Jerman saja yang masih bersikap setia dan menaruh perhatian
besar pada bidang telekomunikasi Indonesia, dan menyediakan dana walau di
masa-masa sulit sekalipun. Ketika itu pengembangan telekomunikasi masih
difokuskan pada pengadaan sentra telepon, baik untuk komunikasi lokal maupun
jarak jauh, dan jaringan kabel. Indonesia saat itu belum memiliki satelit.
Sentral telepon beserta perlengkapan hubungan jarak jauh ini diperoleh dari
Jerman. Pada saat itu, Indonesia hanya dapat membeli produk yang sama, dari
perusahaan yang sama, yakni Perusahaan Jerman. Tidak ada pilihan lain bagi
Indonesia.
Keleluasaan barulah bisa dirasakan
setelah di tahun 1967/1968 mengalir pinjaman-pinjaman ke Indonesia, baik
bilateral ataupun pinjaman multilateral dari Bank Dunia, melalui pinjaman yang
disepakati IGGI. Akan tetapi, pada masa inipun inovasi dalam pemfungsian
teknologi telekomunikasi masih belum berkembang dengan baik di negeri ini. Peda
dasarnya kita memberi dan memakai perlengkapan seperti switches, cables,
carries yang sudah lazim kita pakai sebelumnya.
2. Televisi
Badan penyiaran televisi lahir
tahun 1962 sebelum adanya satelit yang semula hanya dimaksudkan sebagai
perlengkapan bagi penyelenggara Asian Games IV di Jakarta. Siaran percobaan
pertama kali terjadi pada 17 Agustus 1962 yang menyiarkan upacara peringatan
kemerdekaan RI dari Istana Merdeka melalui microwave. Dan pada tanggal 24
Agustus 1962, TVRI bisa menyiarkan upacara pembukaan Asian Games, dan tanggal
itu dinyatakan sebagai hari jadi TVRI.
Terdorong oleh inovasi, akhirnya
pada tanggal 14 November 1962 untuk pertama kalinya TVRI memberanikan diri
melakukan siaran langsung dari studio yang berukuran 9x11 meter dan tanpa
akustik yang memadai. Acaranya terbatas, hanya berupa permainan piano tunggal
oleh B.J. Supriadi dengan pengaruh acara Alex Leo.
Lebih setahun setelah siaran
pertama, barulah keberadaan TVRI dijelaskan dengan pembentukan Yayasan TVRI
melalui Keppres No. 215/1963 tertanggal 20 oktober 1963. Antara lain disebutkan
bahwa TVRI menjadi alat hubungan masyarakat (mass communication media) dalam
pembangunan mental/spiritual dan fisik daripada Bangsa dan Negara Indonesia
serta pembentukan manusia sosialis Indonesia pada khususnya.
Sampai tahun 1989, TVRI merupakan
operator tunggal di bidang penyiaran televise.
Jadi sebelum satelit palapa mengorbit, Indonesia hanya mengenal telekomunikasi yang bersifat terestrial, yakni yang jangkauannya masih dibatasi oleh lautan. Telekomunikasi seperti ini tidak bisa menjangkau pulau-pulau kecuali melalui penggunaan SKKL (Saluran Komunikasi Kabel Laut) yang mahal dan sulit dipergunakan.
Jadi sebelum satelit palapa mengorbit, Indonesia hanya mengenal telekomunikasi yang bersifat terestrial, yakni yang jangkauannya masih dibatasi oleh lautan. Telekomunikasi seperti ini tidak bisa menjangkau pulau-pulau kecuali melalui penggunaan SKKL (Saluran Komunikasi Kabel Laut) yang mahal dan sulit dipergunakan.
- Masa Satelit
1. Satelit Domestik Palapa
Gagasan tentang peluncuran satelit
bagi telekomunikasi domestik di Indonesia bisa ditelusuri asal muasalnya dari
sebuah konferensi di Janewa tahun 1971 yang disebut WARCST (World
Administrative Radio Confrence on Space Telecomunication).
Pada konferensi itu di tampilkan
pila pameran dari perusahaan raksasa pesawat terbang Hughes. Perusahaan inilah
yang mengusulkan ide pemanfaatan satelit bagi kepentingan domestik Indonesia.
Hal tersebut disambut oleh Suhardjono yang berlatar belakang militer dan
membawa masalah satelit itu sampai ke Presiden RI.
Selain pertimbangan kelayakan
ekonomi dan teknis, sejarah peluncuran satelit ini juga diwarnai oleh
kepentingan politik dimana hubungan antara Indonesia dengan negara- negara lain
sudah mulai bersahabat. Di sisi lain, satelit memungkinkan penyebaran luas
ideologi negara ke masyarakat luas melalui TV, satelit juga menguntungkan
secara ekonomi.
Komunikasi tentang cara-cara
menggali sumber daya alam dapat berlangsung dengan mudah. Ini berlaku untuk
kasus tembaga pura (Freeport) dan di Dili. Peluncuran satelit Palapa di Cape
Canaveral, Florida, bulan Agustus 1976 pada panel peluncuran terdapat 3 orang
Indonesia dan perwakilan dari perusahaan NASA dan Hughes.
Kejadian ini diresmikan juga
melalui pidato kenegaraan oleh presiden Soeharto di Jakarta, tanggal 16 Agustus
1976. ini merupakan satu- satunya proyek teknologi yang mendapat tempat
terhormat di gedung Parlemen. Namun peluncuran satelit itu merupakan kebijakan
nasional yang gagasan awalnya dicetuskan oleh pemerintah.
Hal ini didasarkan pada
pertimbangan bahwa Indonesia pernah mengalami ancaman perpecahan. Untuk
mempersatukan tanah air yang sangat luas ini diperlukan sarana perhubungan yang
mencakup seluruh wilayah nusantara. Proses kelahiran satelit ini hanya
melibatkan sedikit teknokrat dan teknolog yang berpihak pada kepentingan Orba.
Dampak Setelah Adanya Satelit
Palapa
Dengan semakin bergantungnya Indonesia pada
teknologi satelit, muncullah sejumlah perusahaan yang bergerak dalam produksi
perlengkapan terkait, seperti RFC (milik Iskandar Alisjahbana), LEN (milik
Kayatmo), PT. INTI. Setelah periode itu, aspek bisnis di dunia telekomunikasi
mencuat. Inovasi lebih banyak terjadi pada penyediaan layanan, sementara
pengembangan teknologi untuk komponen berkurang.
Pertumbuhan ekonomi yang pesat di tahun 1988
membuat kebutuhan telekomunikasi melonjak secara drastis. Untuk memenuhi
kebutuhan telepon yang melonjak, disadari pemerintah perlunya perubahan
regulasi, yang kemudian membuahkan UU no. 3 tahun 1989 tentang pengertian telekomunikasi
yang diperluas hingga mencakup alat pengiriman data seperti facsimile dan
telex, dan lain-lainnya.
Sebelum lahirnya UU ini, Telkom dan Indosat
disebut sebagai badan penyelenggara telekomunikasi yang menyediakan seluruh
jejaring dan layanan jasa. Dampak positif dari berlakunya UU tersebut adalah
mulai masuknya pihak-pihak swasta dengan modal yang besar, walaupun dalam skala
usaha yang terbatas.
Mereka datang dengan membawa teknologi baru,
tenaga ahli, manajemen yang baru. Ini semua kemudian menciptakan iklim usaha
yang baru dalam penyelenggaraan telekomunikasi di Indonesia. Dengan terlibatnya
pihak asing dalam pengadaan dana, teknologi dan menejemen, perkembangan
teknologi telekomunikasi berkembang dengan pesat. Hal ini terjadi sekitar tahun
1990-an dan dampaknya terlihat mulai tahun 1991 khususnya terlihat jelas bahwa
jangkauan telekomunikasi di Indonesia menjadi bertambah luas.
Perkembangan teknologipun berkembang pesat,
mulai dari pesawat telepon manual ke otomatis, dan dari analog menjadi digital.
Pada gilirannya perkembangan ini menuntut adanya pengaturan infrastruktur dan
standarisasi peralatan. Tak lama kemudian masuklah teknologi
mobile-telecommunication.
Berkembanglah pemakaian handphone yang
bardampak tumbuhnya usaha-usaha yang tidak hanya menyediakan layanan atau
jejaring saja, melainkan juga membangun pabrik-pabrik dalam upaya pemenuhan
kebutuhan akan kabel. Menarik untuk dicatat bahwa di era serbuan bisnis
telekomunikasi itu, ternyata kaidah dan aturan bisnis professional tidak sepenuhnya
diikuti. Sementara itu faktor politik tampaknya justru mengambil peranan
penting. Kala itu terjadi campur tangan bisnis dari “Keluarga Cendana” yang
mengambil peranan sebagai mitra bisnis PT Telkom dan Indosat yang kemudian
diikuti oleh krono-kroni mereka seperti Liem Sio Liong melalui “Sinar Mas”- nya
dan lain-lain. Di era emas telekomunikasi itu, tumbuh dorongan kuat agar Bank
Indonesia membuka pintunya lebar-lebar bagi pihak swasta asing.
Bahkan mereka menginginkan adanya privatisasi
Telkom dan Indosat dalam penyelenggaraannya. Dampak dari dorongan ini
mencuatnya pandangan bahwa regulasi yang ada sudah tidak memadai lagi. Di
sekitar tahun 1996, mulailah disusun rencana untuk meninjau kembali UU No. 3
tahun 1989.
Beberapa hal yang diperhatikan dalam review ini adalah :
1. Perkembangan teknologi tahun 1995-1996 itu
berbeda sekali dengan di tahun 1990. ini terutama terjadi akibat konvergensi
teknologi, sebagai fungsi dari berbagai jenis jasa berubah dan timbul jasa-jasa
baru yang perlu diakomodasikan. Konvergensi teknologi bahkan memungkinkan
teknologi dipadu dengan broadcasting, sehingga timbullah telematika,
teleinformatika, teknologi informasi dan lain-lain yang menuntut kebijakan dan
peraturan yang baru.
2. Perkembangan teknologi informasi dan
broadcasting itu ternyata tidak hanya berpengaruh pada masalah politik, dalam
artian berita, tetapi juga iklan yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis.
Lebih jauh lagi dengan berkembangannya telebanking, telekumunikasi sebelumnya
dilihat hanya sebagai public utility, kini berubah menjad bisnis opportunity.
3. Globalisasi ekonomi menciptakan suasana
kompetisi yang semakin ketat. Ini menuntut penyelenggaraan telekomunikasi
dengan kualitas layanan yang semakin tinggi.
Setelah satelit Palapa mengorbit, jangkauan telekomunikasi Indonesia bisa meliputi seluruh nusantara, dan bahkan ke luar wilayah nusantara. Satelit telekomunikas itu kemudian bisa dimanfaatkan bukan untuk telepon tetapi juga untuk berbagai macam keperluan lain seperti, pengiriman facsimile, telex, dan pengiriman berbagai informasi dalam bentuk lain termasuk broadcasting. Setelah perkembangan itu semua terwujud, masyarakat melihat pentingnya peranan telekomunikasi bagi kehidupan suatu bangsa.
Setelah satelit Palapa mengorbit, jangkauan telekomunikasi Indonesia bisa meliputi seluruh nusantara, dan bahkan ke luar wilayah nusantara. Satelit telekomunikas itu kemudian bisa dimanfaatkan bukan untuk telepon tetapi juga untuk berbagai macam keperluan lain seperti, pengiriman facsimile, telex, dan pengiriman berbagai informasi dalam bentuk lain termasuk broadcasting. Setelah perkembangan itu semua terwujud, masyarakat melihat pentingnya peranan telekomunikasi bagi kehidupan suatu bangsa.
Tim Koordinasi Telematika Nasional secara paripurna merumuskan cetak biru pengembangan telematika yang mencakup
tiga kelompok utama, yaitu infastruktur, aplikasi, dan sumber daya.
1. Infrastruktur
Menurut Jonathan L.Parapak (Presiden komisaris
PT.Indosat) dalam http://www.bogor.net, perkembangan infrastruktur ini
dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain kebijakan nasional sector
telekomunikasi, regulasi sector, kondisi ekonomi makro, kemampuan para pelaku
nasional. Pada tatanan kebijakan patut dicatat beberapa kemajuan yang sangat
penting, antara lain diundangkannya UU tentang Telekomunikasi no. 36 tahun 1999
dan dikeluarkannya cetak biru kebijaksanaan tentang telekomunikasi di Indonesia
tanggal 20 Juli 1999.
Pada tatanan regulasi telah dicapai beberapa perkembangan penting antara lain dimungkinkannya pern swasta dan masyarakat yang semakin tinggi dalam pengembangan regulasi yang telah terwujud dalam penetapan tariff dan interkoneksi standard, dan lain-lain. Pada tatanan penyelenggaraan kondisi monopoli dan duopoli yang masih menghambat peran swasta dan masyarakat lebih besar, keadaan ekonomi yang baru tumbuh sangat mempengaruhi daya beli masyarakat.
Pada tatanan regulasi telah dicapai beberapa perkembangan penting antara lain dimungkinkannya pern swasta dan masyarakat yang semakin tinggi dalam pengembangan regulasi yang telah terwujud dalam penetapan tariff dan interkoneksi standard, dan lain-lain. Pada tatanan penyelenggaraan kondisi monopoli dan duopoli yang masih menghambat peran swasta dan masyarakat lebih besar, keadaan ekonomi yang baru tumbuh sangat mempengaruhi daya beli masyarakat.
Dalam kondisi ini, kelihatannya sasaran
pembangunan infrastuktur baik adimarga informasi, multimedia city akan
mengalami penundaan. Namun demikian perlu dicatat bahwa PT.Telkom telah
berupaya membangun lingkar-lingkar adimarga kepulauan dan infrastruktur
multimedia di Jakarta. Infrastruktur informasi telah maju selangkah dengan
beroperasinya satelit Telkom 1.
Salah satu aspek yang penting adalah
pemanfaatan secara optimal infrastruktur yang ada. Tampaknya perlu dikembangkan
kebijaksanaan baik pada tingkat pemerintah maupun pada tingkat penyelenggaraan
agar investasi yang telah dilakukan dapat termanfaatkan dengan berdaya guna dan
berhasil guna bagi berbagai komponen masyarakat, baik pendidikan, layanan
kesehatan, pemerintahan maupun kegiatan bisnis.
2. Aplikasi Telematika
Aplikasi telematika Indonesia terfokus pada
pemberdayaan aparatur negara, pemerkayaan hidup masyarakat (telemedik,
telekarya, pendidikan), penciptaan daya saing bisnis
(perbankan,pos,pariwisata,manfaktur), pembangunan informasi dasar dan aplikasi
telematika perlu dilihat dari tatanan kebijakan, regulasi, dan penyelenggaraan
yang di manfaatkan masyarakat.
Dari sudut pandang kebijakan tampaknya belum
terasa perkembangan yang menonjol. Isu kelembagaan masih banyak
diperbincangkan, UU yang terkait dengan atau tentang telematika (cyber law)
masih jauh dari harapan. Beberapa aspek regulasi yang mendesak, misalnya
pengaturan secure transaction, public ke infrastructure registration authority,
electronic payment, certification authority masih belum dilaksanakan.
Namun, perhatian pada perlindungan hak kekayaan
intelektual semakin tinggi dan upaya untuk memantapkan regulasi semakin
mendapat perhatian dari berbagai pihak. Di lapangan dapat dicatat perkembangan
yang menggembirakan dengan semakin meluasnya homepage, berkembangnya aplikasi
seperti E-commerce, E-Banking, E-Brokerage, dan lain-lai.
Sektor pemerintah nampaknya berkembang lamban
karena kendala keuangan dan sumber daya manusia. Beberapa kelompok usaha
seperti PT. Telkom, Indosat, Lippo e nett, nampaknya semakin giat untuk
mengejar ketertinggalan masyarakat kita di bidang aplikasi. Aplikasi seperti
E-government, tele-education, telemedicine masih dalam taraf mula yang perlu di
dorong berbagai pihak.
3. Sumber Daya Telematika
Dalam bidang sumber daya , diarahkan pada
pengembangan SDM, industri dalam negeri, hukum dan perdagangan, serta kultur
informasi. Secara umum dirasakan bahwa SDM di dalam negeri belum memenuhi
harapan untuk berperan dalam pengembangan teknologi yang berubah begitu cepat.
Namun demikian, cukup banyak pula SDM Indonesia
di bidang telematika yang bekerja di luar negeri termasuk di sentra-sentra
keunggulan. Usaha berbagai pihak khusunya sector swasta, nampaknya cukup
menggembirakan antara lain dikembangkannya cyber campus seperti ITB, UPH, dan
lain-lain. Yang sangat memprihatinkan adalah pengembangan industri dalam
negeri.
Walaupun berbagi konsep telah cukup lama di
bicarakan seperti Hightech Park di Bandung, Serpong dan lain-lain sampai saat
ini belum mencapai kemajuan berarti. Oleh karena itu perlu dikembangkan
kebijaksanaan nasional untuk mendorong berkembangnya industri dalam negeri di
bidang telematika antara lain sistem insentif.
Dalam mempromosikan visi N21, inisiasi perlu
datang dari pemerintah. Namun secara bertahap dan interaktif, visi ini perlu
mengakomodasi kebutuhan yang khas dari berbagai kelompok masyarakat maupun
departemen. Untuk itu keterlibatan berbagai kelompokmasyarakat dalam merumuskan
dan mewujudkan program-program telematika perlu ditumbuhkembangkan secara
berangsur-angsur.
Hal ini pada gilirannya akan membatasi peranan
pemerintah, khususnya dalam hal pengadaan dan pengelolaan kandungan informasi.
Control informasi dari pemerintah justru dipandang sebagai faktor penghambat
bagi upaya penyejahteraan masyarakat melalui jejaring telekomunikasi.
C. Trend ke depan Telematika
Trend telematika di Indonesia pada umunya akan
berkembang dengan pesat dengan seiring berkembangnya teknologi informasi.
Masyarakat saat ini tidak harus bersusah payah untuk menghubungi kerabat, teman
atau keluarga mereka atau hanya sekedar mencari informasi. Mereka sudah bisa mendapatkan
informasi melalui fasilitas telepon, internet dan dapat melihatnya melalui
televisi. Trend tersebut akan berkembang lebih pesat lagi bila diiringi dengan
sumber daya yang mumpuni.
Pada prinsipnya berbagai jenis usaha di dunia
telematika dapat di pilah-pilah menjadi berbagai usaha yang sifatnya modular
tidak terlalu tergantung satu dengan lainnya. Beberapa servis seperti NIC
servis & CA/RA/PKI servis memang merupakan servis pendukung yang sifatnya
tidak terlalu profit-oriented, akan tetapi tidak bisa di pisahkan dari usaha
yang didukungnya.
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi
(TIK) juga tidak akan kalah dengan perkembangan TIK saat ini. Perangkat
komputasi berskala terabyte, penggunaan multicore processor, penggunaan memory
dengan multi slot serta peningkatan kapasitas harddisk multi terabyte akan
banyak bermunculan dengan harga yang masuk akal. Komputasi berskala terabyte
ini juga didukung dengan akses wireless dan wireline dengan akses bandwidth
yang mencapai terabyte juga. Hal ini berakibat menumbuhkan faktor baru dari
perkembangan teknologi. Antarmuka pun sudah semakin bersahabat, lihat saja
software Microsoft, desktop UBuntu, GoogleApps, YahooApps Live semua berlomba
menampilkan antarmuka yang terbaik dan lebih bersahabat dengan kecepatan akses
yang semakin tinggi. Hal ini ditunjang oleh search engine yang semakin cepat
mengumpulkan informasi yang dibutuhkan oleh penggunannya.
Ada lima kelompok industry yang berperan besar
dalam perkembangan trend telematika ke depan, diantaranya:
1. Infrastruktur Telekomunikasi (biasanya resiko
bisnis paling besar)
2. Infrastruktur Internet (biasanya resiko
bisnis sedang & rendah)
3. Hosting service (biasanya resiko bisnis
rendah)
4. Transaction type service (biasanya
resiko bisnis rendah)
5. Content / knowledge producer (biasanya
resiko bisnis rendah)
Dalam dunia informasi yang biasanya penggunanya
berpendidikan, proses community building agak lebih pelik dari pada dunia
biasa. Konsep penggalangan massa seperti para partai politik di dunia nyata
tidak mungkin dilakukan di dunia maya. Interaksi dua arah berbentuk diskusi, di
talkshow, di kolom-kolom media di tumpu oleh kemampuan leadership
(kepemimpinan), total customer satisfaction dan komitmen kepada masyarakat
berpengetahuan akan menjadi kunci keberhasilan dalam melibatkan masyarakat
dalam kebersamaan.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar