Jurnal
Open Services Gateway Initiative (OSGI)
UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS
ILMU KOMPUTER & TEKNOLOGI INFORMASI
TUGAS
PENGANTAR TELEMATIKA
SPESIFIKASI OSGI MENGGUNAKAN KOMPUTASI GRID SEBAGAI
JAWABAN KETERBATASAN SUMBER DAYA KOMPUTASI
Nama & NPM : Bayu Prasetyo 11111437
Fajar Ziqqy Sallasa
Fakultas : Ilmu
Komputer dan Teknologi Informasi
Jurusan : Sistem Informasi
Kelas : 4KA11
Depok
2015
ABSTRAKSI
Bayu Prasetyo(11111437), Fajar Ziqqy Sallasa
(12111654)
SPESIFIKASI
OSGI MENGGUNAKAN KOMPUTASI GRID SEBAGAI JAWABAN KETERBATASAN SUMBER
DAYA KOMPUTASI
Tugas Pengantar Telematika. Jurusan Sistem
Informasi, Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, Universitas
Gunadarma, 2013
Kata Kunci: Spesifikasi OSGI,
Komputasi Grid, Keterbatasan Sumber Daya Komputasi
(iii - 15)
Spesifikasi OSGI telah bergerak
melampaui fokus asli gateway layanan, dan sekarang digunakan dalam beberapa
aplikasi yaitu Dari ponsel ke open source Eclipse IDE, Area aplikasi
lainnya termasuk mobil, Otomasi industri, Otomatisasi
bangunan, PDA, komputasi grid, hiburan, armada manajemen dan
aplikasi server. Grid ComputinG, suatu
arsitektur sistem komputer berkinerja tinggi yang memanfaatkan teknologi grid
computing yang ada (beberapa di antaranya: Globus Toolkit 4, Condor, PVM, MPI)
sebagai komponen pembangunnya. Dengan terbentuknya infrastruktur komputasi grid
computing ini, diharapkan kebutuhan para peneliti akan sumber daya komputasi
dapat dipenuhi dan pada gilirannya dapat meningkatkan tingkat kompetitif.
Daftar Pustaka (2014)
DAFTAR
ISI
Halaman
Judul……………….………………………………. i
Abastraksi……………………………….…...……………… ii
Daftar
Isi……………………………………..……….…….. iii
BAB
I PENDAHULUAN……………..……………………... 5
1.1 Latar Belakang……………………………….…….. 5
1.2 Tujuan Penulisan…………………...……………... 5
1.3 Metode
Penulisan…………………………...…….. 5
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA…………….....……………. 6
2.1 Definisi
OSGI………………..….………………. 6
2.2 Spesifikasi OSGI…………………………….…… 6
2.3 Keuntungan Teknologi
OSGI……………………... 7
2.4 Komputasi Grid…………………………………..… 8
BAB III
PEMBAHASAN……………...……………………... 9
3.1
Evolusi Grid Computin …………………………….. 9
3.2
Grid Computing & Solusi yang Ditawarkan…..10
3.3 Infrastruktur Komputasi Grid…………..…………..11
3.3 Infrastruktur Komputasi Grid…………..…………..11
3.4
Arsitektur GRID COMPUTING.…………………...11
BAB
IV PENUTUP…………..………………………………..14
4.1
Kesimpulan………………………………………….14
DAFTAR
PUSTAKA……………………………..……………15
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Saat
ini, para peneliti sudah amat menyadari pentingnya peran komputer dalam pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Komputer memungkinkan para peneliti untuk
menciptakan laboraturium virtual dalam komputer untuk melakukan eksperimen-
eksperimen yang akan mahal sekali jika dilakukan di dalam sebuah laboraturium
fisik atau bahkan tidak mungkin. Beberapa pihak bahkan telah memberikan nama
tersendiri untuk menggambarkan kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang berbasis komputer ini dengan sebutan e-Science 0.
Untuk
melakukan eksperimen dengan menggunakan komputer dalam konteks pengembangan
e-Science di atas umumnya dibutuhkan sumber daya komputasi yang berkinerja
tinggi (atau juga dikenal dengan sebutan high performance computing). Pada
beberapa dekade yang lalu, sumber daya komputasi berkinerja tinggi ini hanya dapat
dipenuhi oleh komputer yang dikategorikan sebagai supercomputer (seperti
komputer Cray X-MP, CDC, Illiac-IV). Supercomputer memang dapat memenuhi
kebutuhan para peneliti e-Science, namun karena harganya yang mahal, hanya
sedikit dari para peneliti tersebut yang dapat memilikinya/menggunakannya.
Sejalan dengan perkembangan teknologi komputer, baik dari sisi perangkat keras
maupun perangkat lunak, saat ini sumber daya komputasi berkinerja tinggi tidak
lagi harus dipenuhi oleh komputer- komputer berkategori supercomputer. Bahkan
dengan teknologi komputer yang dikenal dengan nama grid computing, sejumlah
komputer yang lazim digunakan di perkantoran dapat digabung untuk secara
bersama-sama melakukan eksperimen seperti yang dahulu biasa dilakukan oleh supe
computer.
Bagi
para peneliti di negara-negara yang kemampuan ekonominya terbatas maka solusi
yang diberikan oleh teknologi grid computing ini merupakan suatu alternatif
yang harus dipertimbangkan dengan amat serius. Pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, termasuk yang dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer
(e-Science), tidak harus terhenti hanya karena keterbatasan dana. Teknologi
grid computing memungkinkan para peneliti memanfaatkan sumber daya komputasi
yang telah ada semaksimal mungkin. Dengan menggunakan teknologi ini, para
peneliti dapat menggabungkan komputer-komputer yang berada di tempat-tempat
yang secara geografis terpisah menjadi suatu kesatuan sistem komputer. Gabungan
banyak komputer ini secara keseluruhan mampu menyediakan sumber daya komputasi
yang setara atau bahkan lebih dengan komputer berkategori supercomputer. Lebih
lanjut, sistem komputer ini dapat digunakan secara bersama-sama oleh para
peneliti yang juga berasal dari instansi-instansi yang lokasinya berlainan.
Secara keseluruhan, tidak saja teknologi grid computing memungkinkan para
peneliti menerapkan e-Science untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi dengan biaya yang relatif “terjangkau”, tetapi juga dapat
memanfaatkan sumber daya komputasi yang ada seefisien mungkin secara
bersama-sama oleh banyak peneliti.
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan
penulisan jurnal ini adalah untuk lebih memahami spesifikasi OSGI terutama pada
aplikasi komputasi grid, serta apa saja yang terdapat pada komputasi grid dalam
menjawab keterbatasan sumber daya komputasi.
1.3 Metode penulisan
Metode yang digunakan dalam pembuatan
jurnal ini adalah dengan literature. Yaitu mencari informasi yang berhubungan
dengan sepsifikasi OSGI terutama komputasi grid, baik itu melalui browsing
maupun sumber-sumber literature tertulis (buku).
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Definisi OSGI
OSGI (Open Service Gateway
Initiative) adalah sebuah rencana industri untuk cara standar untuk
menghubungkan perangkat seperti perangkat rumah tangga dan sistem keamanan ke
Internet. OSGI berencana menentukan program aplikasi antarmuka (API) untuk
pemrogram menggunakan, untuk memungkinkan komunikasi dan kontrol antara
penyedia layanan dan perangkat di dalam rumah atau usaha kecil jaringan. OSGI
API akan dibangun pada bahasa pemrograman Java. Program java pada umumnya dapat
berjalan pada platform sistem operasi komputer. OSGI adalah sebuah interface
pemrograman standar terbuka.
The OSGI Alliance (sebelumnya dikenal sebagai Open Services Gateway inisiatif, sekarang nama kuno) adalah sebuah organisasi standar terbuka yang didirikan pada Maret 1999. Aliansi dan anggota – anggotanya telah ditentukan sebuah layanan berbasis Java platform yang dapat dikelola dari jarak jauh.
The OSGI Alliance (sebelumnya dikenal sebagai Open Services Gateway inisiatif, sekarang nama kuno) adalah sebuah organisasi standar terbuka yang didirikan pada Maret 1999. Aliansi dan anggota – anggotanya telah ditentukan sebuah layanan berbasis Java platform yang dapat dikelola dari jarak jauh.
2.2 Sepsifikasi
OSGI
Spesifikasi OSGI telah bergerak
melampaui fokus asli gateway layanan, dan sekarang digunakan dalam beberapa
aplikasi yaitu :Dari ponsel ke open source Eclipse IDE,
- Area aplikasi lainnya termasuk mobil,
- Otomasi industri,
- Otomatisasi bangunan,
- PDA,
- komputasi grid,
- hiburan,
- armada manajemen dan aplikasi server.
Adapun
spesifikasi yang lain dimana OSGI akan dirancang untuk melengkapi standar
perumahan yang ada, seperti orang – orang LonWorks (lihat kontrol jaringan),
CAL, CEBus, HAVi, dan lain-lain. Inti bagian dari spesifikasi adalah suatu
kerangka kerja yang mendefinisikan aplikasi model manajemen siklus hidup,
sebuah layanan registrasi, sebuah lingkungan eksekusi dan modul. Berdasarkan
kerangka ini, sejumlah besar OSGI layers, API, dan Jasa telah ditetapkan.
Spesifikasi OSGI yang dikembangkan oleh para anggota dalam proses terbuka dan
tersedia untuk umum secara gratis di bawah Lisensi Spesifikasi OSGI. OSGI
Alliance yang memiliki program kepatuhan yang hanya terbuka untuk anggota. Pada
Oktober 2009, daftar bersertifikat OSGI implementasi berisi lima entri.
2.3 Keuntungan
Teknologi OSGI
Keuntungan menggunkan teknologi OSGI
antara lain:
1. Mengurangi kompleksitas :
mengembangkan dengan OSGi berarti menembangkan bundles : salah satu komponen
OSGi. Bundles adalah modul. Bundles menyembunyikan aspek internalnya dari
bundles lainnya. Hal ini berarti ada banyak kebebasan untuk menggantinya di
kemudian hari.
2. Dapat digunakan kembali : model
komponen OSGi sangat mudah digunakan dan dapat digunakan dengan aplikasi pihak
ketiga.
3. RealWorld : OSGi framework dinamik.
Hal ini berarti OSGi dapat diupdate secara online.
4. Mudah Penyebarannya : teknologi OSGi
bukanlah sebuah teknologi standard. OSGi dapat dimanage sedemikian rupa serta
dapat diatur cara penginstalannya.
5. Update yang dinamik : OSGi komponen bisa
diupdate secara dinamik.
6. Adaptif : model komponen OSGi
didesain sedemikian rupa hingga diperbolehkan untuk mengkombinasi dan
mencocokan antar komponen.
7. Transparan
8. Banyak versinya
9. Simple : OSGi API sangat simple. API
OSGi hanya terdiri dari satu paket dan berjumlah kurang dari 30 kelas.
10. Ukurannya kecil
2.4 Komputasi Grid
Komputasi grid secara konsep tidak seperti elektronik grid. Dalam elektronik grid, outlet dinding mempersilahkan kita untuk dapat berhubungan dengan sumber infrastruktur yang membangun, mendistribusikan, dan mengirimkan rekening listrik. Ketika kita terhubung dengan elektronik grid, kita tidak perlu mengetahui dari mana tenaga tersebut berasal atau bagaimana caranya bisa sampai kepada kita. Komputasi grid menggunakan middleware untuk mengkordinasi sumber-sumber IT yang terpisah di dalam suatu jaringan. Tujuan dari komputasi grid hampir sama dengan elektronik grid, di mana komputasi grid menyediakan akses bagi para pengguna kepada sumber yang mereka butuhkan.
Komputasi grid secara konsep tidak seperti elektronik grid. Dalam elektronik grid, outlet dinding mempersilahkan kita untuk dapat berhubungan dengan sumber infrastruktur yang membangun, mendistribusikan, dan mengirimkan rekening listrik. Ketika kita terhubung dengan elektronik grid, kita tidak perlu mengetahui dari mana tenaga tersebut berasal atau bagaimana caranya bisa sampai kepada kita. Komputasi grid menggunakan middleware untuk mengkordinasi sumber-sumber IT yang terpisah di dalam suatu jaringan. Tujuan dari komputasi grid hampir sama dengan elektronik grid, di mana komputasi grid menyediakan akses bagi para pengguna kepada sumber yang mereka butuhkan.
Gambaran
Sistem Dan Proses Mobile agent dalam komputasi Grid Mobile agent dan komputasi
grid merupakan kombinasi yang sangat baik untuk memecahkan masalah dalam dunia
komputasi, karena banyak memiliki kecocokan karakteristik antara keduanya. Kami
akan menunjukkan suatu contoh implementasi konsep dari sistem mobile agent
dalam komputasi grid.
Ada tiga fitur middleware yang dibutuhkan untuk membentuk
sebuah komputasi grid dari komputer desktop yang terdistribusi melalui
internet:
1. Mencari dan menjatahkan sumber daya
sistem kepada suatu pekerjaan yang mungkin berubah secara dinamis.
2. Berpindah tempat proses ke suatu
mesin baru yang tersedia, khususnya ketika mesin tersebut sedang dikunjungi
oleh pemilikinya atau bahkan pada saat mesin tersebut dalam keadaan OFF.
3. Support komunikasi jaringan
transparan diantara beberapa proses, beberapa diantaranya dapat dijalankan di
dalam mesin yang berada di belakang gateway atau firewall
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1
Evolusi Grid Computin
Teknologi
grid computing merupakan teknologi yang telah dikembangkan dalam waktu yang
panjang. Secara evolusi kita melihat pengembangan teknologi sejenis mulai dari
Condor 0, kemudian diikuti oleh PVM (Parallel Virtual Machine) 0 dan MPI
(Message Passing Interface) 0, sampai dengan Globus Toolkit 0. Sejak awal, para
peneliti di bidang komputasi berkinerja tinggi telah menggunakan dua pendekatan
0, (1) supercomputer, membangun sebuah komputer dengan teknologi perangkat
keras berkinerja tinggi, dan (2) multicomputer, membangun sebuah sistem
komputer dengan teknologi jaringan interkoneksi dan perangkat lunak. Pendekatan
pertama umumnya menghasilkan sebuah komputer yang berkinerja tinggi, tetapi
berharga amat mahal sehingga hanya dapat dimiliki oleh segelintir pihak saja.
Pendekatan kedua menghasilkan suatu sistem komputer yang kinerjanya bervariasi
sesuai jumlah komputer yang tergabung dan konfigurasi perangkat lunak yang
digunakan.
Walaupun
harga suatu sistem komputer berkinerja tinggi yang dibangun dengan pendekatan
multicomputer lebih terjangkau dibandingkan dengan supercomputer, pemakaiannya
masih terbatas. Sistem komputer berbasis jaringan tersebut umumnya diterapkan
pada komputer-komputer yang terhubung dalam suatu jaringan lokal (LAN). Salah
satu penyebabnya adalah masalah keamanan jaringan yang belum tertangani dengan
baik. Selain itu, sistem perangkat lunak pendukung yang memungkinkan
komputer-komputer tersebut bekerja sebagai satu kesatuan umumnya memiliki
konfigurasi yang kompleks sehingga penggunanya harus memiliki keahlian
tersendiri sebelum dapat memanfaatkan sistem komputer tersebut.
Sejalan
dengan perkembangan teknologi Internet dan teknologi- teknologi komputer yang
berkaitan lainnya seperti protokol komunikasi data, teknologi keamanan
jaringan, teknologi pemgrograman terdistribusi, dan teknologi bahasa
pemrograman yang independen terhadap arsitektur komputer maka sistem komputer
berkinerja tinggi berbasis jaringan menjadi lebih mudah untuk diimplementasikan
dan digunakan.
3.2. Grid Computing & Solusi yang
Ditawarkan
Pada
beberapa tahun belakangan ini, sekelompok peneliti di bidang komputasi
berkinerja tinggi secara serius memusatkan perhatian pada pengembangan sistem
komputer berbasis jaringan seperti yang telah diuraikan di atas dengan
menggunakan teknologi yang dikenal dengan sebutan teknologi grid computing 0.
Teknologi
grid computing adalah suatu cara penggabungan sumber daya yang dimiliki banyak
komputer yang terhubung dalam suatu jaringan sehingga terbentuk suatu kesatuan
sistem komputer dengan sumber daya komputasi yang besarnya mendekati jumlah
sumber daya komputasi dari komputer-komputer yang membentuknya. Lebih lanjut,
sebagian atau seluruh sumber daya komputasi ini dapat dipakai oleh penggunanya
sesuai kebutuhan masing-masing. Penamaan “grid” disini meminjam istilah yang
digunakan dalam ketenagalistrikan 0, dimana pembangkit-pembangkit tenaga
listrik dihubungkan satu sama lain untuk secara bersama-sama memasok kebutuhan
tenaga listrik penggunanya. Masing-masing pengguna hanya menggunakan sebagian
dari daya listrik yang dihasilkan oleh seluruh pembangkit tenaga listrik
tersebut.
Berbeda dengan teknologi-teknologi
pendahulunya seperti Condor, PVM, atau MPI, teknologi grid computing dilengkapi
oleh komponen-komponen yang memungkinkan pemanfaatan sumber daya komputasi yang
terhimpun secara lebih optimal dan aman. Untuk melihat komponen-komponen dari
teknologi grid computing ini, disini akan diuraikan dengan singkat sistem
Globus Toolkit yang dikembangkan oleh para peneliti di Argonne National Laboratory,
Amerika Serikat 0. Sistem Globus Toolkit merupakan salah satu teknologi grid
computing yang populer dan banyak digunakan oleh pihak-pihak yang ingin
mengintegrasikan sumber daya komputasi mereka yang tersebar menjadi satu
kesatuan.
Secara
spesifik, sistem Globus Toolkit yang akan dibahas disini adalah sistem Globus
Toolkit versi 4 (GT4) 0, yang merupakan versi mutakhir dari sistem Globus
Toolkit. Sistem GT4 dibangun dengan menggunakan teknologi Web Services 0 yang
telah berkembang menjadi suatu standar dalam pengembangan perangkat lunak
terdistribusi. Teknologi Web Services memungkinkan GT4 mengadopsi konsep
berorientasi layanan (service-oriented) yang menggunakan layanan, bukan
perangkat keras, sebagai komponen dasar bangunannya. Di atas Web Services ini
GT4 membangun komponen-komponen utama dari sistem komputasi grid berikut ini.
3.3.Infrastruktur Komputasi Grid
Dengan meningkatnya kebutuhan para peneliti akan sumber daya
komputasi untuk melakukan e-Science seperti telah disebutkan dimuka dan berkembangnya
teknologi grid computing maka beberapa negara telah mengambil inisiatif untuk
mengimplementasikan infrastruktur komputasi grid di tingkat nasional. Beberapa
contoh di antaranya: India 0, Singapura 0, dan Jepang 0.
Suatu infrastruktur komputasi grid akan dapat menekan biaya
investasi dibandingkan bila masing-masing institusi tersebut harus mengadakan
perangkat komputasinya sendiri-sendiri. Lebih lanjut, sistem komputasi grid
yang menuntut penggunaan sumber daya komputasi secara bersama-sama akan menumbuhkan
semangat berkolaborasi di antara para peneliti tersebut. Suatu hal yang amat
positif.
Melihat manfaat yang dapat diberikan oleh keberadaan suatu
infrastruktur komputasi grid di tingkat nasional maka pada makalah ini diajukan
rancangan RI-GRID, yaitu infrastruktur komputasi grid di tingkat negara
Republik Indonesia yang bertujuan memanfaatkan sumber daya komputasi yang
berada di institusi-institusi penelitian baik saat ini maupun di masa akan
datang sehingga dapat digunakan oleh para peneliti di negara ini untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3.4.Arsitektur GRID
COMPUTING
GRID COMPUTING dibangun dengan jalan
menggabungkan sistem- sistem komputasi grid yang berada di institusi-institusi
penelitian (GRID-2, 3, 4) menjadi satu kesatuan. Konfigurasi perangkat keras
dan perangkat lunak masing-masing sistem di tingkat institusi dapat berbeda,
namun dengan mengoperasikan teknologi grid computing seperti GT4 pada
simpul-simpul penghubung dari masing-masing sistem, keseluruhan sistem membentuk
satu kesatuan infrastruktur komputasi grid. Dengan konfigurasi seperti ini,
jika dibutuhkan, pengguna di suatu institusi dapat memanfaatkan sumber daya
komputasi yang berada di luar institusinya.
Konfigurasi
yang ditunjukkan pada Gambar 1 di atas tidak menuntut masing-masing sistem di
tingkat institusi untuk merubah konfigurasi sistem masing-masing secara
signifikan. Jika suatu institusi telah mengimplementasikan suatu teknologi grid
computing tertentu seperti SUN Grid Engine (SGE) atau teknologi komputasi
berbasis jaringan seperti PVM, MPI, Condor maka sistem GT4 dapat
dikonfigurasikan untuk berkoordinasi dengan masing-masing teknologi
tersebut.Salah satu prasyarat dari pembentukan GRID COMPUTING adalah
tersedianya suatu backbone jaringan berkapasitas besar untuk menghubungkan
simpul-simpul penghubung di masing-masing institusi (harus memiliki lebar pita
mulai 2 Mbps sampai dengan 155 Mbps).
RAM: Grid Resource Allocation &
Managemen
Komponen ini bertanggung jawab dalam mengelola
seluruh sumber daya komputasi yang tersedia dalam sistem komputasi grid.
Pengelolaan ini mencakup eksekusi program pada seluruh komputer yang tergabung
dalam sistem komputasi grid, mulai dari inisiasi, monitoring, sampai
penjadwalan (scheduling) dan koordinasi antar-proses. Suatu hal yang menarik
dengan sistem GT4 adalah kemampuannya untuk bekerja sama dengan sistem-sistem
pengelolaan sumber daya komputasi yang telah ada sebelumnya seperti Condor,
PVM, atau MPI. Dengan mekanisme ini maka program-program yang telah dibangun
sebelumnya tidak perlu dibangun ulang atau kalaupun harus dimodifikasi,
modifikasinya minimum, jika akan dijalankan dalam lingkungan komputasi grid
berbasis GT4.
RFT/GridFTP: Reliable File
Transfer/Grid File Transfer Protocol
Komponen ini memungkinkan pengguna
mengakses data yang berukuran besar dari simpul-simpul komputasi yang tergabung
dalam sistem komputasi grid secara efisien dan dapat diandalkan. Hal ini
penting karena kinerja komputasi tidak saja bergantung pada seberapa cepat komputer-komputer
yang tergabung dalam sistem komputasi grid ini mengeksekusi program, tetapi
juga seberapa cepat data yang dibutuhkan dalam komputasi tersebut dapat
diakses. Perlu diingat bahwa, data yang dibutuhkan oleh suatu proses tidak
selalu berada pada komputer yang mengeksekusi proses tersebut.
MDS: Monitoring & Discovery
Service
Komponen ini memungkinkan pengguna sistem GT4
melakukan monitoring proses komputasi yang tengah berjalan sehingga masalah
yang timbul dapat segera diketahui. Sementara itu, aspek discovery dari
komponen ini memungkinkan pengguna mengidenti-fikasi keberadaan suatu sumber
daya komputasi berikut karakteristiknya.
GSI: Grid Security Infrastructure
Komponen ini bertanggung jawab atas
keamanan sistem komputasi grid secara keseluruhan. Komponen ini pula yang
merupakan salah satu ciri pembeda teknologi GT4 dengan teknologi-teknologi
pendahulunya seperti PVM atau MPI. Dengan diterapkannya mekanisme keamanan yang
terintegrasi dengan komponen-komponen komputasi grid lainnya, sistem berbasis
teknologi grid computing seperti GT4 dapat diakses oleh publik (WAN) tanpa
menurunkan tingkat keamanannya. Sistem keamanan GT4 dibangun atas
komponen-komponen standar keamanan yang telah teruji, yang mencakup proteksi
data, autentikasi, delegasi, dan autorisasi. Konfigurasi dasar GT4
mengasumsikan baik pengguna maupun layanan menggunakan standar keamanan yang
menggunakan standar kunci publik X.509.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Spesifikasi OSGI telah bergerak melampaui fokus asli gateway
layanan, dan sekarang digunakan dalam beberapa aplikasi yaitu Dari ponsel ke
open source Eclipse IDE, Area aplikasi lainnya termasuk
mobil, Otomasi industri, Otomatisasi
bangunan, PDA, komputasi grid, hiburan, armada manajemen dan
aplikasi server.
Sistem komputasi berkinerja tinggi berbasis teknologi
grid computing tidak identik dengan sistem komputer berharga mahal. Lebih
lanjut, infrastruktur komputasi grid dapat dibangun dengan menggabungkan
sumber-sumber daya komputasi yang telah ada menjadi satu kesatuan yang kemudian
dapat berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan,
prinsipkolaborasi yang melandasi teknologi grid computing dapat menjadi
pelajaran berharga bagi kita untuk menerapkannya dalam konteks kehidupan yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
[1] URL: http://bayoekmex.blogspot.com/2013/03/contoh-jurnal-komputasi-modern.htmL 14/01/2014
[2] URL: http://betawigaoel.wordpress.com/2011/05/07/sistem-mobile-agent-dalam-komputasi-grid/ 14/01/2014
[3] URL: http://jogjesro.wordpress.com/
14/01/2014
[4] URL: http://jmcleanoloan.blogspot.com/2014/01/open-services-gateway-initiative-osgi.html
14/01/2014
[5] URL: http://itsmeyagi.blogspot.com/2013/01/osgi-virtualization-api.html 14/01/2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar